Desember...............
Masih sama seperti sebelumnya. Hujan masih setia mengguyur bumi, membasahi rerumputan, dan menebarkan aroma yang khas.
Hujan selalu indah. Dari jendela kamarku kulihat orang berlalu lalang memakai payung dan aku dapat menghitung setiap tetes hujan yang menetes di jendela kamarku membentuk alur air. Semua masih sama seperti sebelumnya dan perasaan ini masih tetap sama, seperti tiga tahun yang lalu...................
Pagi ini hujan turun lagi, namun aku telah bersiap – siap untuk pergi kuliah. Entahlah, tetapi hujan membuatku lebih bersemangat. Sebagian temanku lebih memilih kembali meringkuk di kasur yang hangat daripada pergi ke kampus yang belum tentu dosen juga mau datang dalam keadaan cuaca seperti ini.
Seperti sudah kuduga sebelumnya, hanya ada beberapa anak di dalam kelas itupun dalam kondisi yang memprihatinkan, basah kuyup. “ Bah, tau begini aku tidak datang ke kampus, lebih enak tidur di rumah. Benar tadi kata emakku, kalau sekolah itu tak perlu susah – susah.” Kudengar suara nyaring di belakangku. Bonar, asli Batak yang menjadi maskot di kelasku. “ Pagi Na, ah kau itu rajin sekali pergi ke kampus, aku tadi kalau karena tidak ingin ketemu sama Bu Devika, tau kan dosen kita yang cantik itu aku gak bakalan mau pergi ke kampus. Tapi mana pula ini sampai jam segini Bu Devika belum datang atau mungkin dia tidak datang, bah sia – sia sajalah pengorbananku!” lanjutnya kembali. Aku hanya tersenyum mendengarkannya, toh bagiku ada atau tidak adanya dosen sama saja, yang terpenting aku tetap masuk kuliah, tidak membolos.
Hari ini hanya ada beberapa dosen yang datang untuk mengisi mata kuliah. Itupun dosen yang rumahnya dekat dengan kampus atau dosen yang memiliki kendaraan roda empat. Sedangkan yang lainnya tidak datang karena terjebak hujan atau entah apalah.
Pukul 13.15 mata kuliah terakhir hari ini, sejak 15 menit yang lalu telah berakhir. Kulihat awan menggayut di langit. Sebentar lagi pasti hujan. Walaupun tadi langit sempat cerah beberapa saat, tampaknya kali ini hujan akan kembali turun. Teman-temanku tergesa- gesa untuk segera pulang dan berharap hujan tidak jadi turun atau ketika hujan turun mereka telah sampai di rumah atau di tempat kos masing-masing. Aku melangkah gontai, menuruni anak tangga di kampusku.
Aku telah sampai di halaman parkir, ketika gerimis turun. Beberapa mahasiswa sibuk memakai mantel atau menyelamatkan buku-buku mereka dengan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Tapi aku tak peduli, aku terus melangkah menuju tempat yang ingin kudatangi dari tadi pagi.
Sebuah taman kecil dengan beberapa pohon besar yang menaunginya dan sebuah bangku tepat di tengah taman itu. Aku duduk di bangku, menikmati setiap tetes hujan yang semakin deras menerpa kulitku. Kuhirup dalam-dalam aroma tanah yang tersiram air hujan dan kulihat rerumputan telah basah. Masih sama seperti sebelumnya. Kupejamkan mataku, mencoba mengumpulkan kembali kenanganku yang tercecer di sini, namun tiba-tiba kulihat seseorang tersenyum. Senyum yang sangat kukenal yang mengingatkanku pada seseorang.......
Laki-laki......................
Laki-laki itu mendekat, menghampiriku,memegang kedua tanganku,tersenyum. Arya. Aku ikut tersenyum bahagia dan juga memegang tangannya erat, takkan pernah rela untuk melepasnya. Aku terkejut, dia memelukku. Kurasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kurasakan, namun yang kutahu ini adalah..............bahagia. Ya, aku bahagia memiliki seseorang yang begitu mencintaiku. Arya melepas pelukannya,masih memegang erat tanganku, kutatap lekat matanya. “Suatu saat bila kau rindu padaku, berlarilah, dan katakan pada hujan, aku akan datang,” bisik Arya. Aku mengangguk, tersenyum, dan memeluknya erat. Namun tiba-tiba semuanya berputar, semakin lama semakin menghilang.........................
Seorang gadis di sebuah taman kecil menangis dan tersenyum, menatap kenangan yang telah meninggalkannya. Masih sama seperti sebelumnya..................
Hampir menjelang magrib ketika aku sampai di rumah. Kudengar suara lembut ibu memanggilku. “Na, kamu sudah pulang ?” Kulihat ibu tersenyum padaku. Pucat. “Iya Bu, Na tadi kuliah sampai sore, makanya sekarang baru pulang,” jawabku. “Malam tadi, Ibu bermimpi Arya datang kemari menemui Ibu,”lanjutnya. Aku tercekat. Hatiku kembali menangis, namun ku mencoba untuk tetap tersenyum. “ Sudahlah Bu, itu hanya mimpi, bunga tidur,” jawabku. “Tidak Na, siang tadi sewaktu kamu kuliah, Arya menelepon Ibu, menanyakan kabar Ibu. Ibu bilang Ibu baik-baik saja,”ucapnya. Kali ini, aku tidak bisa menahan hatiku. Sungguh hal yang lebih membuatku menangis, ibu sangat menyayangi Arya. “Sudahlah Bu, sebaiknya Ibu istirahat,”ucapku. Aku tahu ibu tak baik-baik saja. Kanker stadium akhir. Hal yang paling membuatku takut setiap kali aku membuka mata. Takut, ibu tak lagi bisa tersenyum untukku.
Aku tahu aku tak boleh berharap. Kudengar ada seseorang di samping Arya kini. Logika mencegahku untuk berharap, namun hatiku tak bisa berbohong, aku masih menyayanginya.
Pagi ini cuaca sangat cerah, tak seperti biasanya. Aku berjalan gontai menyusuri koridor kampus. Hari ini banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Seperti yang telah kuduga, anak-anak sudah banyak yang datang. Mereka rela datang pagi-pagi untuk mengerjakan tugas dengan mencontoh teman yang lain. Akupun segera mengikuti jejak teman-temanku, mengerjakan tugas yang semalam belum sempat aku kerjakan.
Hari ini waktu berjalan amat cepat. Entahlah, mungkin karena terlampau banyak tugas yang kami kerjakan, sehingga waktu tak terasa semakin berlalu. Mata kuliah terakhir, telah berlalu sejak 10 menit yang lalu. Aku berjalan menuruni anak tangga kampus. Gerimis turun lagi. Tetap indah, namun aku tak ingin seperti biasanya. Aku tak ingin menangis lagi bersama hujan. Aku ingin tersenyum, walau hujan menangis. Cukup sudah semuanya. Ingin kuakhiri segalanya.
Aku datang ke taman kecil itu lagi. Duduk di bangku dan merasakan semua yang pernah terjadi. Aku menangis. Ini yang terakhir. Aku janji. Kamu harus kuat Na, ucapku pada diriku sendiri. Saat itu kulihat bayangan seseorang, Arya. Ah, pasti hanya halusinasiku. Aku tertawa pahit, mencoba tak memperdulikannya. Aku yakin halusinasi itu akan menghilang. Cukup ini Desember terakhir aku menangis. Genap 3 tahun Arya meninggalkanku. Aku harus melepasnya. Namun semua tak seperti yang kupikirkan. Bayangan itu...................bayangan itu......................semakin lama semakin nyata.................
“Arya?” ucapku tak percaya. “ Ya ini aku Na, aku datang.” ucap Arya. Aku menahan tangis. “ Aku tahu kamu pasti disini. Tadi aku ke rumah ibu bilang kamu belum pulang,”lanjutnya. “ Untuk apa kamu ke sini?” ucapku menguatkan hati. “ Aku datang untukmu, menepati janjiku,” jawabnya sambil menatapku lekat. Aku berusaha menghindari tatapan itu. “ Sudahlah, Arya semuanya sudah berakhir,” ucapku pelan. “ Kamu bohong Na, aku tahu kamu masih mencintaiku, dan akupun masih memiliki rasa itu,” jawabnya. Aku tercekat. “ Hah? cinta? Maaf tapi aku tak lagi percaya dengan cinta itu. 3 tahun Arya kamu meninggalkanku tanpa kepastian, kamu bilang ini cinta?” kini aku balik menatapnya, benci. “Tapi Na.....,”ucapnya tertahan. “ Kamu tahu apa yang lebih membuatku sakit, ibu sangat menyayangimu Arya, sangat menyayangimu. Mengapa kamu memberinya harapan, sementara kamu telah memiliki yang lain??” ucapku. Kali ini aku tak lagi bisa menahan hatiku, aku menangis. “Na, maafkan aku,” ucapnya lirih. “Sudahlah Arya, pergilah, pergilah Arya,” ucapku sambil menangis. “Na????” ucapnya terkejut. Aku tak lagi dapat menahan hatiku, aku berlari meninggalkannya.
Tiba-tiba.....................Naaaaaa!!!!!!!
Ciiiiiiiiiiiiiit........Brukkkkkkkkk.......!!!! Kulihat semuanya berputar. Seseorang berlari ke arahku. Namun semuanya menjadi gelap, dan kurasakan tubuhku terhempas. “Na, aku mencintaimu,” ucap seseorang. Aku tak lagi dapat melihat seseorang itu, tak dapat lagi kurasakan cintanya, dan akupun tak dapat lagi mencintainya. Aku menepati janjiku, ini Desember terakhir aku menangis untukmu................
Aku mengenalmu lewat jiwa, bukan lewat mata.....
Aku menjadikanmu kekasih lewat hati.....
Ku tak tahu seperti apa aku dalam pandanganmu......
Tapi yang aku tahu.....
Meski dengan keterbatasanku.....
Aku menulis namamu di hatiku.....
Sejak awal aku mengenalmu.......
Takkan pernah terganti......
Apalagi terhapus......
Sebagai kekasih di hatiku.....
Kemarin, hari ini, ataupun nanti......
Scream_voc/ IIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar